Judul : Tiga Pragmatisme yang Dorong Kelahiran Go-Jek
link : Tiga Pragmatisme yang Dorong Kelahiran Go-Jek
Tiga Pragmatisme yang Dorong Kelahiran Go-Jek
Jakarta - Setelah 8 tahun didirikan, Go-Jek terus berkembang hingga berhasil menjadi startup unicorn di Indonesia. Pencapaian yang dibuktikan dengan peningkatan nilai valuasi hingga tembus USD 1 miliar ini diraih dengan perjalanan panjang yang penuh tantangan.Co Founder & CIO Go-Jek Indonesia Kevin Aluwi menceritakan awal berdirinya Go-Jek bersama Nadiem Makarim, yang hanya bermula dari 3 buah pragmatisme. Ia mengaku mereka memang memiliki passion untuk membangun suatu hal yang baru dan penuh inovasi.
"Pas kita memutuskan untuk berangkat dan memulai perusahaan ini bukan dari idealisme, melainkan dari pragmatisme. Jadi banyak pragmatisme-pragmatisme yang jadi dorongan. Pragmatisme yang pertama itu dari sudut pandang, kepribadian, dan kita personality-nya kayak gitu," paparnya saat menghadiri acara Innocreativation di Grand City Convention Hall, Surabaya, Rabu (14/11/2018).
Selanjutnya, ia juga melihat kemacetan di Ibu Kota sebagai suatu peluang untuk mendirikan perusahaan yang ia pimpin sekarang. Terlebih karena ia sadar bahwa waktu yang dihabiskan di tengah kemacetan bisa digunakan untuk berkumpul bersama keluarga, teman, atau untuk melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.
"Pragmatisme yang kedua kita lihat dari kemacetan di Jakarta, yang setiap hari harus memadati kemacetan yang luar biasa. Kita benar-benar merasa ini adalah problem yang bukan cuma problem kecil tapi benar-benar dijadikan perhatian untuk kualitas hidup," lanjut Kevin.
![]() |
Ketiga, lanjutnya, adalah pragmatisme yang muncul karena ia sering ngojek. Dari pengalaman itu, ia melihat bahwa tukang ojek selalu mendapat penilaian yang negatif. Salah satunya seperti memberi harga yang terlalu tinggi, suka ugal-ugalan, dan lainnya.
Dari ketiga pragmatisme yang sederhana itu, ia sadar bahwa ia telah mendapat kesempatan untuk membangun suatu startup dengan impact yang besar.
"Jadi kita sadar sebenarnya kita diterima, diberikan opportunity atau kesempatan yang luar biasa dan dari situlah kita sadar kita ada kesempatan yang telah diberikan oleh Tuhan untuk melakukan impact yang sangat besar," sambungnya.
Setelah didirikan, ia menceritakan salah satu tantangan baru setelah Go-Jek berhasil didirikan. Salah satunya adalah membludaknya jumlah tukang ojek yang ingin bergabung menjadi mitra Go-Jek.
"Tapi pada suatu saat, saat itu tahun 2015, saking besarnya yang ingin gabung dengan Go-Jek, kita harus sewa Stadion Gelora Bung Karno di mana lebih dari 100 ribu tukang ojek gabung. Tim kita sampai nggak tidur," ungkapnya.
Namun setelah belajar dari sekian banyak rintangan yang hadir, ia menyatakan bahwa Go-Jek akhirnya bisa berkembang hingga melakukan ekspansi ke empat negara di Asia Tenggara, yakni Vietnam, Thailand, Singapura, dan Filipina
"Kita tahu bahwa suatu hal kecil yang kita lakukan bisa diubah menjadi sesuatu yang bisa merubah negara ini dan sekarang negara-negara lain di Asia Tenggara," pungkas Kevin.
(fyk/krs)
from inet.detik https://ift.tt/2PqLIeh
via IFTTT
Demikianlah Artikel Tiga Pragmatisme yang Dorong Kelahiran Go-Jek
Anda sekarang membaca artikel Tiga Pragmatisme yang Dorong Kelahiran Go-Jek dengan alamat link https://berita-sekarang-indo.blogspot.com/2018/11/tiga-pragmatisme-yang-dorong-kelahiran.html
0 Response to "Tiga Pragmatisme yang Dorong Kelahiran Go-Jek"
Post a Comment